1. Mori-jio dan O-iri

Mori-jio atau menaburkan garam adalah kebiasaan yang dilakukan masyarakat Jepang yang memiliki toko makanan atau minuman. Mereka percaya dengan menaburkan garam pada dua sisi di depan pintu masuk toko akan banyak pelanggan yang datang, sehingga rezeki si pemilik toko akan tetap ada dan mungkin bertambah banyak.

Kaitannya dengan o-iri adalah suatu tanda yang artinya “besar/masuk”. Tanda ini adalah cerminan dari pemilik restauran/warung makan agar masyarakat yang berlalu lalang mau singgah dan membeli dagangannya dalam jumlah besar.

2. O-miyagi

Suatu budaya dimana sepulangnya masyarakat dari berziarah ke tempat suci pasti membawa benda keramat yang disebutnya sebagai jimat. Sekarang pendapat tersebut sudah berubah tetapi kebiasaan yang ada tetap nampak di kalangan masyarakat Jepang. Bukan jimat lagi yang mereka bawa tetapi sebangsa kado atau ”souvenir” yang dalam bahasa Jepangnya disebut dengan O-miyagi.

Saat kebiasaan itu berlaku, tempat suci yang sering dikunjungi adalah Ice Grand Shrine. Sebelumnya ada hal yang sangat diharapkan oleh mereka yang akan melakukan perjalanan itu. Senbentsu atau pemberian uang, itulah harapannya. Uang ini akan dikembalikan dalam bentuk barang (jimat). Sekarang senbentsu itu sudah bukan lagi kebiasaan karena dianggapnya sudah tidak layak lagi dikerjakan.

3. Terutesu bozu

Musim hujan bagi masyarakat Jepang adalah musim dimana mereka bisa membuat boneka lucu yang digantungkan di depan rumah pada bagian atap atau jendela. Itulah yang dinamakan terutesu bozu, sebentuk boneka yang dibuat dengan cara menggulung bola dalam selembar kain putih yang kemudian diikat seukuran bentuk bola tersebut yang kemudian bagian itu dijadikan sebagai kepala boneka.

Ini dilakukan dengan harapan agar hujan tidak turun saat akan melakukan perjalanan sehingga acara yang dimaksud tidak mendapat gangguan. Kebiasaan ini masih dilakukan di Jepang, namun tujuan yang ada berubah. Sekarang yang melakukannya justru anak-anak kecil yang berharap dengan dibuatnya terutesu bonzu segala keinginannya bisa terkabulkan.

4. Kappa

Inilah yang paling ditakuti anak-anak di Jepang. Kappa, berbentuk hewan amphibi, berwarna hijau, tinggal di sebuah lubang dekat sungai. Makhluk yang mengerikan dan membahayakan ini mempunyai kekuatan memuncratkan air dari kepalanya, dan anak-anak yang bermain di tepi sungai seringkali hilang tanpa kabar diculik oleh Kappa yang kemudian membunuhnya.

Dengan cerita inilah anak-anak merasa takut bermain di tepi sungai padahal yang sebenarnya adalah memang berbahaya bermain di tempat itu.

5. Hino-matsuri

Tanggal 3 Maret adalah tanggal yang mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat Jepang, dimana diadakannya festival boneka atau disebut dengan istilah hino-matsuri. Pembuatan boneka bukan tidak mempunyai tujuan, dengan dibuatnya badan boneka mereka berharap yang ada pada kehidupannya berpindah pada boneka, sehingga untuk kemudian hidupnya bisa lebih bersih lagi.

6. Maru dan Gatsu

Maru dengan tanda huruf O berarti simbol untuk mengatakan ”ya” sedangkan gatsu dengan tanda huruf X berarti simbol untuk mengatakan ”tidak”. Tanda-tanda ini menjadi sangat berharga ketika seseorang akan menyebarkan kartu undangan pernikahan. Bagi mereka yang menerima undangan, pada daftar nama yang telah dibuatnya akan segera diberi tanda (O), sedangkan mereka yang tidak menerimanya, segera diberi tanda (X).

7. Tenugui

Tenugui ini adalah saputangan. Tenugui sendiri, sekarang lebih banyak digunakan oleh seseorang yang menjinjing suatu tempat suci pada suatu festival untuk menandai group sponsornya.

8. Praktek menghitamkan gigi

Praktek ini bertujuan untuk memberi ciri bahwa gadis yang mempunyai gigi hitam berarti sudah mempunyai umur yang cukup dewasa, sehingga yang melakukannya adalah para anak gadis dari berbagai kalangan. Tapi kini, kebiasaan itu lambat-laun mulai punah karena dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan keberadaan zaman.

9. Kebiasaan bertukar alas kaki

Kebiasaan ini lahir sebagai cara untuk memelihara ruangan agar tetap bersih dan nyaman. Hal ini dilakukan dengan cara mengganti sepatu yang sudah dipakai dengan sandal rumah sebelum masuk sehingga yang kotor tertinggal diluar dan yang bersih dikenakan.

10. Sepatu dan bunuh diri

Di Jepang jika ada orang bunuh diri sudah dapat dipastikan orang itu tidak mengenakan sepatu. Ada suatu kepercayaan bahwa orang yang mati tanpa sepatu dimungkinkan segala kejahatan dan kekotoran yang pernah dia buat selama di dunia akan bisa cepat ditinggalkan untuk masuk pada dunia berikutnya.

11. Rompi merah di usia 60 tahun

Ada kebiasaan yang dilakukan untuk itu, yaitu dengan mengenakan rompi berwarna merah pada saat hari kelahirannya sebagai hal untuk menandakan rasa bersyukurnya atas umur yang masih diberikan.

12. ”No Tips!”

Jepang sebagai negara modern ternyata tidak mengenal istilh ”uang tips”. Hal itu tidak berlaku di Jepang karena baik pelayan, pengemudi maupun pekerja di hotel dianggap sebagai karyawan ”full time” yang dibayar dengan gaji reguler.

13. Simbol segitiga pada sebuah bangunan

Simbol ini berwarna merah. Bisa dilihat di bagian jendela atau pintu pada sebuah bangunan. Simbol ini memberikan arti bahwa petugas pemadam kebakaran bisa masuk ke dalam ruangan jika dalam keadaan darurat.Bisa diartikan pula bahwa si pemilik bangunan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar pada bangunan yang dimilikinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s